Mengapa Banyak Eksekutif Sulit Mempercayai Blockchain?
Teknologi blockchain telah digadang-gadang sebagai revolusi di era digital, menjanjikan transparansi, keamanan, dan desentralisasi. Bagi para pengambil keputusan bisnis, blockchain menawarkan potensi untuk mentransformasi industri, menyederhanakan operasi, dan mengamankan transaksi. Namun, meski mendapat banyak perhatian, banyak eksekutif yang masih ragu untuk sepenuhnya mengadopsi teknologi ini. Mengapa demikian? Berikut adalah kupasan lebih mendalam terkait potensi alasan-alasan di balik trust-issues itu.
Sebelum masuk ke pembahasan utama, berikut adalah refresher dari teknologi disruptive ini:
1. Kerumitan Konsep dan Kurangnya Pemahaman
Blockchain secara inheren memang adalah suatu hal yang kompleks. Tidak seperti database atau sistem informasi tradisional, pengoperasian sistem blockchain bergantung pada:
- jaringan yang terdesentralisasi,
- keamanan kriptografi, dan
- mekanisme konsensus
Bagi para pemimpin bisnis yang non-teknis, konsep-konsep ini bisa sangat membingungkan, sehingga sulit untuk menilai nilai atau risiko nyata dari solusi berbasis rantai blok.
Bahkan bagi mereka yang sudah mengenal rantai blok sebelumnya, lanskap teknologi ini terus berkembang. Platform baru, algoritma konsensus, dan kasus penggunaan baru muncul secara berkala, membuatnya sulit untuk terus mengikuti perkembangan.
Kerumitan ini dapat menyebabkan keraguan dalam mengadopsi teknologi baru seperti ini, terutama ketika manfaatnya bagi bisnis secara praktis… tidak jelas.
2. Kekhawatiran Keamanan
Meskipun blockchain sering disebut sebagai “tahan gangguan” karena sifatnya yang terdesentralisasi, tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal terhadap ancaman keamanan. Contoh yang paling dikenal adalah potensi serangan 51%, di mana jika mayoritas daya komputasi jaringan dikendalikan oleh satu entitas, mereka bisa memanipulasi data blockchain. Untuk aplikasi bisnis yang berisiko tinggi, tingkat kerentanan ini menjadi kekhawatiran yang sah.
Selain itu, meskipun sistem rantai blok itu sendiri mungkin aman, aplikasi yang dibangun di atasnya—seperti smart contracts—dapat memiliki kelemahan. Pada tahun 2016, jaringan Ethereum mengalami serangan besar di mana penyerang mengeksploitasi kelemahan dalam smart contract, yang menyebabkan hilangnya jutaan dolar dalam bentuk cryptocurrency. Ini menunjukkan bahwa blockchain hanya seaman elemen terlemahnya – yang tentunya, ketika kita bicara mengenai transaksi finansial, jelas malah membangun keraguan.
Sebelum melanjutkan ke bahasan selanjutnya, jangan lupa untuk mengingat kembali primer mengenai Keamanan Internet Bagi Para Eksekutif
3. Ketidakpastian Regulasi
Bagi para pemimpin bisnis, kejelasan regulasi sangat penting. Namun, blockchain beroperasi di wilayah abu-abu di banyak yurisdiksi. Pemerintah dan badan regulasi masih berusaha memahami cara mengklasifikasikan dan mengatur aset dan aktivitas berbasis blockchain. Dalam beberapa kasus, hal ini telah menyebabkan pembatasan pengembangan atau adopsi teknologi ini.
Misalnya, cryptocurrency—sebagai salah satu aplikasi utama blockchain—menghadapi berbagai regulasi di seluruh dunia. Di negara-negara seperti Tiongkok, cryptocurrency dilarang, sementara negara lain seperti Amerika Serikat masih berusaha mengembangkan kerangka regulasi yang jelas. Ketidakpastian ini menciptakan risiko bagi perusahaan yang ingin mengintegrasikan blockchain dalam operasinya, karena perubahan regulasi yang tiba-tiba dapat mengganggu model bisnis.
4. Masalah Skalabilitas Blockchain
Sifat blockchain yang terdesentralisasi, meskipun bermanfaat untuk keamanan, menimbulkan tantangan signifikan dalam hal skalabilitas. Database tradisional dapat memproses ribuan transaksi per detik, namun sebagian besar blockchain kesulitan untuk menyamai kecepatan tersebut. Bitcoin, misalnya, hanya memproses sekitar tujuh transaksi per detik, jauh lebih lambat dibandingkan prosesor pembayaran konvensional seperti Visa.
Bagi bisnis yang menangani volume transaksi yang tinggi, ini menjadi tantangan mendasar. Eksekutif tidak mungkin mempercayai sistem yang tidak dapat diandalkan dalam memenuhi kebutuhan operasi mereka, terutama jika mereka beroperasi di industri yang membutuhkan transaksi berkecepatan tinggi, seperti keuangan atau ritel.
5. Konsumsi Energi
Pengoperasian sistem rantai blok, terutama model proof-of-work seperti Bitcoin, terkenal boros energi. Daya komputasi yang diperlukan untuk memelihara dan memverifikasi jaringan blockchain mengonsumsi jumlah listrik yang sangat besar. Bagi bisnis yang memiliki tujuan keberlanjutan, hal ini berpotensi menjadi penghambat pencapaian tujuan.
Dengan meningkatnya tekanan bagi perusahaan untuk menerapkan praktik yang lebih ramah lingkungan, dampak lingkungan dari teknologi rantai blok ini dapat menghambat adopsi, terutama ketika ada solusi alternatif yang menggunakan energi yang lebih hemat dan minim maintenance.
6. Kurangnya Kasus Penggunaan yang Terbukti
Meskipun teknologi ini telah dipublikasikan secara luas, jumlah implementasi yang berhasil dan berskala besar dalam bisnis masih relatif terbatas. Secara alamiah, para eksekutif cenderung berhati-hati dalam mengadopsi teknologi baru – terutama disrupsi teknologi-teknologi baru yang memiliki rekam jejak yang masih terbatas. Mereka ingin melihat hasil yang terbukti nyata, terutama di industri yang serupa dengan industri mereka, sebelum menuangkan komitmen pada alokasi sumber daya untuk teknologi baru tersebut.
Bagi banyak perusahaan, pendekatan “wait and see” adalah jalan paling aman hingga lebih banyak cerita sukses yang nyata dan terukur muncul. Tanpa kasus penggunaan yang jelas dari blockchain yang memberikan laba atas investasi, sulit untuk membenarkan adopsinya.
7. Integrasi Blockchain dengan Sistem Lama
Sebagian besar bisnis sangat bergantung pada sistem lama yang ada, yang telah disempurnakan dan disesuaikan selama bertahun-tahun untuk memenuhi kebutuhan spesifik mereka. Mengintegrasikan teknologi baru yang masif seperti ini ke dalam sistem ini tidaklah sederhana maupun murah. Ini memerlukan investasi besar dalam hal waktu, uang, dan keahlian.
Struktur desentralisasi semacam ini seringkali bertentangan dengan sistem lama yang terpusat, sehingga integrasi menjadi lebih rumit dari yang diperkirakan. Gesekan antara sistem lama dan baru ini dapat menghentikan adopsi, karena biaya dan risiko mengganggu operasi saat ini mungkin melebihi manfaat yang dirasakan dari blockchain.
Kesimpulan: Kepercayaan pada Blockchain Harus Diperoleh, Bukan Diberikan
Bagi para eksekutif bisnis, kepercayaan pada teknologi blockchain bukanlah hal yang otomatis. Kepercayaan harus dibangun melalui pemahaman, hasil yang terbukti, dan kesesuaian dengan kebutuhan bisnis. Hingga tantangan terkait keamanan, skalabilitas, regulasi, dan integrasi dapat diatasi, blockchain akan tetap menjadi wilayah yang menjanjikan namun memerlukan kehati-hatian.
Meskipun jelas bahwa blockchain memiliki potensi untuk mentransformasi industri, para eksekutif harus mengambil pendekatan yang bijaksana. Eksplorasi pada area ini tetap harus terus diupayakan, namun, investasi boleh mengambil sikap waspada. Dari pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan dari eksplorasi tersebut, kumpulkan informasi, ajukan pertanyaan yang tepat, dan selalu berfokus pada aplikasinya di dunia nyata, bisnis dapat menavigasi lanskap blockchain dengan lebih percaya diri dan membuat keputusan yang tepat tentang apakah, dan bagaimana, mengintegrasikannya ke dalam strategi mereka.